“Masa’ sih dia tidak
punya kekurangan sama sekali?”
Aku hanya tersenyum
dengan muka bersemu merah, melihat ekspresiku seperti itu teman-temanku sudah
bisa menyimpulkan apa jawaban atas pertanyaan mereka itu.
Bukannya dia sama sekali tidak memiliki kekurangan, tetapi
saat ini kekurangan yang ada padanya seolah tertutup awan cinta yang bisa
membutakan mataku.
Aku mengenalnya secara tak sengaja, kami harus bekerjasama
untuk menangani sebuah project yang mengharuskan kami sering berkomunikasi. Entah
sejak pandangan keberapa aku mulai menyukainya, mungkin sejak pandangan
pertama.
Dia seseorang yang bertampang cuek, cool, pendiam namun pria tipe tersebut selalu memiliki pesona tersendiri untukku.
Meski baru
saling mengenal namun dia ternyata sosok yang peduli denganku. Suatu hari Dia tiba-tiba bertanya, apakah aku ada keinginan rencana pindah kerja? Aku kaget dan kemudian
memandangnya, “Tentu saja ada.” Begitu
jawabku sambil tersenyum. Aku tentu saja kaget karena dia tiba-tiba membahas
hal tersebut, hal yang bahkan tidak pernah ditanyakan teman-temanku padaku. Mendengar
jawabanku, Dia lalu memberitahuku bahwa ada lowongan di tempat kerja ibunya,
dan menyuruhku mencoba untuk mendaftar. Tak lupa Ia bertanya apakah aku tau
lokasinya, aku berkata tidak sambil tertawa. Bahkan dia berkali-kali memberiku
arahan agar aku bisa sampai lokasi dengan benar. But I didn’t get the point.
Beberapa hari kemudian aku mencoba memberanikan diri untuk
memasukkan lamaran ke tempat ibunya bekerja. Kuputuskan untuk menitipkan lamaranku
ke meja penerima tamu. Saat itu ingin aku menghubunginya dan bertanya apakah
sudah benar namun aku urungkan niatku karena takut mengganggunya. Oh iya aku
sempat takjub karena penerima tamunya bisa tau namanya. Hahahhaah
Besoknya dia menghubungiku, awalnya kami hanya membahas
project kerjasama kita namun pada akhirnya dia menanyakan apakah aku jadi
memasukkan lamaran ke tempat yang Ia rekomendasikan. Aku bilang jika aku sudah
menaruhnya kemarin. Hal itu membuatnya terkejut, dan bertanya kenapa kemarin
saat sampai sana tidak menghubunginya. Kan kalau aku menghubunginya dia bisa
menelepon temannya untuk membantu mengambil berkasku. Melihat reaksinya yang seperti itu membuatku merasa senang, senang karena merasa ada yang memperhatikan dan
peduli denganku.
Aku pun mengusulkan apakah aku harus menelepon ke kantor tsb
agar berkasku diserahkan kepada temannya, dia berkata tidak usah karena dia
sudah mengurus semua dan telah menghubungi temannya. Aku berterimakasih padanya
karena sudah baik padaku, namun dia berkata bahwa dia tidak menjanjikan apa-apa
karena hanya memberikan info saja.
Yang ingin kusampaikan namun belum sempat aku katakan padamu
adalah, terimakasih sudah peduli denganku. Terlepas apakah nantinya diterima
atau tidak di tempat tersebut. Melihat ada orang yang masih peduli denganku
saja aku sudah tersentuh (baper), kamu berkata aku berlebihan. Bagaimana aku bisa
bersikap biasa saja.
Mungkin kamu merasa itu biasa karena kamu tidak punya perasaan apa-apa, atau karena kamu sudah terbiasa baik dengan semuanya.
PS : she is as cold as ice, but in the right hands she will
melt.
