Accidentally in Love

Senin, 14 Maret 2016

“Masa’ sih dia tidak punya kekurangan sama sekali?” 
Aku hanya tersenyum dengan muka bersemu merah, melihat ekspresiku seperti itu teman-temanku sudah bisa menyimpulkan apa jawaban atas pertanyaan mereka itu.
Bukannya dia sama sekali tidak memiliki kekurangan, tetapi saat ini kekurangan yang ada padanya seolah tertutup awan cinta yang bisa membutakan mataku.

Aku mengenalnya secara tak sengaja, kami harus bekerjasama untuk menangani sebuah project yang mengharuskan kami sering berkomunikasi. Entah sejak pandangan keberapa aku mulai menyukainya, mungkin sejak pandangan pertama.
Dia seseorang yang bertampang cuek, cool, pendiam namun pria tipe tersebut selalu memiliki pesona tersendiri untukku.

Meski baru saling mengenal namun dia ternyata sosok yang peduli denganku. Suatu hari Dia tiba-tiba bertanya, apakah aku ada keinginan rencana pindah kerja? Aku kaget dan kemudian memandangnya, “Tentu saja ada.” Begitu jawabku sambil tersenyum. Aku tentu saja kaget karena dia tiba-tiba membahas hal tersebut, hal yang bahkan tidak pernah ditanyakan teman-temanku padaku. Mendengar jawabanku, Dia lalu memberitahuku bahwa ada lowongan di tempat kerja ibunya, dan menyuruhku mencoba untuk mendaftar. Tak lupa Ia bertanya apakah aku tau lokasinya, aku berkata tidak sambil tertawa. Bahkan dia berkali-kali memberiku arahan agar aku bisa sampai lokasi dengan benar. But I didn’t get the point.

Beberapa hari kemudian aku mencoba memberanikan diri untuk memasukkan lamaran ke tempat ibunya bekerja. Kuputuskan untuk menitipkan lamaranku ke meja penerima tamu. Saat itu ingin aku menghubunginya dan bertanya apakah sudah benar namun aku urungkan niatku karena takut mengganggunya. Oh iya aku sempat takjub karena penerima tamunya bisa tau namanya. Hahahhaah

Besoknya dia menghubungiku, awalnya kami hanya membahas project kerjasama kita namun pada akhirnya dia menanyakan apakah aku jadi memasukkan lamaran ke tempat yang Ia rekomendasikan. Aku bilang jika aku sudah menaruhnya kemarin. Hal itu membuatnya terkejut, dan bertanya kenapa kemarin saat sampai sana tidak menghubunginya. Kan kalau aku menghubunginya dia bisa menelepon temannya untuk membantu mengambil berkasku. Melihat reaksinya yang seperti itu membuatku merasa senang, senang karena merasa ada yang memperhatikan dan peduli denganku.

Aku pun mengusulkan apakah aku harus menelepon ke kantor tsb agar berkasku diserahkan kepada temannya, dia berkata tidak usah karena dia sudah mengurus semua dan telah menghubungi temannya. Aku berterimakasih padanya karena sudah baik padaku, namun dia berkata bahwa dia tidak menjanjikan apa-apa karena hanya memberikan info saja.

Yang ingin kusampaikan namun belum sempat aku katakan padamu adalah, terimakasih sudah peduli denganku. Terlepas apakah nantinya diterima atau tidak di tempat tersebut. Melihat ada orang yang masih peduli denganku saja aku sudah tersentuh (baper), kamu berkata aku berlebihan. Bagaimana aku bisa bersikap biasa saja. Mungkin kamu merasa itu biasa karena kamu tidak punya perasaan apa-apa, atau karena kamu sudah terbiasa baik dengan semuanya.

PS : she is as cold as ice, but in the right hands she will melt.