Terimakasih untukmu yang
masih mengingat cerita bagaimana awal kita berjumpa, jujur saja aku bingung
bagaimana aku akan mulai bercerita. Sebagian dari diriku ingin membalas surat
mu, sebagian lagi menyuruh untuk mengabaikan pesanmu saja. Entahlah karena aku
bingung bagaimana mengungkapkannya kuputuskan menuliskan disini saja. Oiya ini sengaja pake foto kesayangan aku Kapten Yoo Si Jin biar greget aja sama judulnya. hahahaa
Jujur saja aku baru tahu saat
membaca suratmu bahwa dalam rombongan trip tersebut ternyata aku cukup populer,
entah mengapa justru part ini yang aku ingat mungkin dasarnya aku memang manusia
yang senang dipuji kali yah..hhehehe
Aku ingat waktu itu kamu
berjalan di belakangku dan sahabatku sambil membawa kamera, tiba-tiba kamu
berkata bahwa logatku medok sehingga kurang cocok kalau berkata elo-gue dengan
teman-teman dari Jakarta. Setelah berkata seperti itu kamu langsung pergi
dengan cueknya.
Lalu akupun berkata ke
sahabatku, kapan aku bicara elo-gue? Semalem perasaan aku gak banyak bicara
karena fisik sudah lelah bahkan untuk makanpun sudah tak bertenaga. Pikirku ahh
sudahlah mungkin mas tadi efek masih mabok makan tumis mercon buatan anak-anak
Tangerang.
Pagi itu kami melihat anak
club motor melewati kami, tanpa pikir panjang sahabatku Mic mengambil inisiatif
untuk menumpang agar bisa berkeliling kawah wurung dan ternyata mereka setuju.
Yah ini kita namakan sebagai “kekuatan wanita” kami wanita bisa mendapatkan apa
yang kita mau karena kami wanita. Ya begitulah definisinya. Gara-gara hal
tersebut kita jadi dicari oleh rombongan, dan saat sampai basecamp kami dihukum meminta maaf kepada seluruh rombongan karena
telat berkumpul dan membuat semua orang menunggu. Kalau ingat saat itu jujur
ada rasa bersalah juga, untungnya teman-teman dari Jakarta tidak ketinggalan jadwal kereta dikarenakan molornya rundown acara..hiks hiks
Tidak lama setelah acara
trip bersama peserta trip saling follow akun media sosial, pikirku hal tersebut
lumrah terjadi agar masih bisa keep in
touch.
Aku menemukan keganjilan dari ceritamu,
jika kamu lupa mari aku ingatkan. Sebelum mendaki ke Semeru terlebih dulu kamu
sudah mendaki Gunung Ungaran dan kawah Ijen, jadi tidak seharusnya kamu berkata
dulunya enggan untuk mendaki. Waktu itu kamu memang sempat membawakan tas
kerilku meski sebentar tapi aku cukup berterimakasih. Saat itu kamu berkata
jika membawa tas depan dan belakang akan menyusahkan karena pos selanjutnya
penuh tanjakan. Oke aku mengerti tapi dalam lubuk hati terdalam aku berpikir
pasti tasku tidak seringan tas April yang bisa kamu bawakan mulai pos 1 sampai
3..hahahaah
Hanya saja yang membuatku kecewa bukan
karena kamu tidak membawakan bebanku, tapi kamu yang tidak memaksa untuk gantian
membawa beban keril teman kita yang berisi logistic dan tenda. Mengingat saat
itu kondisinya belum fit benar seharusnya kamu menawarinya untuk berganti beban.
Karena saat di grup sebelum berangkatpun sudah ada wacana akan ada gantian untuk
membawa beban keril logistic. Kamu boleh menjawab, itu karena teman kita yang
tidak mau gentian membawa beban. Oke aku mengerti.
Kelak jika kau menghadapi
permasalahan seperti ini lagi tetaplah mengikuti perintah orang tua, tetaplah
menjadi anak yang patuh terhadap orang tua. Jangan pernah hiraukan wanita yang
bahkan baru kau kenal. Surgamu ada pada orang tuamu tetaplah menjaga baktimu.
Aku tahu memang tidak
mungkin dari pihakmu yang mengakhiri perjodohan dengan calonmu, keluarga mana
yang akan menolak jika akan berbesanan dengan keluarga terpandang. Itu yang
dari dulu kau risaukan, tidak bisa menolak perjodohan dengan keluarga gadis
tersebut karena keluargamu banyak hutang budi, selain itu mereka berasal dari
keluarga terpandang. Aku juga akan mengingat kalimat yang kau kirim pada
sahabatku “Namun apakah baik juga berlaku egois mengabaikan keluarga walaupun
ketika menikah nanti kita sendiri yg bertanggung jawab akan keluarga yang
dibangun” Oke aku mengerti.
Sampai pada akhirnya kamu memberanikan
diri menulis surat ini padaku, aku cukup terkejut dan berkata “where have you been?” Aku bukanlah buku yang bisa kau lempar saat bosan membaca,
dan memungutnya kembali saat ingin membaca saat memiliki waktu luang.
Cerita tentang perjodohanmu kita semua sudah tahu, karena
dari awal kita mengenal kamu pun sudah terbuka dengan masalah ini, saat tahu
cerita itupun aku sudah memiliki jarak aman agar kita tidak melewati garis
tersebut. Saat kamu memilih pergi posisimu tentu akan digantikan dengan orang
yang memang ingin bertahan. Aku juga tak lagi ingin menjadi bebanmu, saat kau
memilihku mungkin akan membuat hidupmu menjadi rumit. Jadi kuharap kini kau yang harus mengerti.
Saat ini berpikirlah tenang dan jangan memikirkan egomu,
pikirkan perasaan orang tuamu, pikirkan perasaanku, dan untuk kali ini abaikan
perasaanmu. Mungkin ini hanya pelarian semata, karena kamu (mungkin) merasa
tertolak dengan calon yang akan dijodohkan denganmu. Padahal diawal perjodohan
orang tua pihak wanita sangat mengharapkanmu menjadi menantunya. Hal ini sangat
wajar mengingat saat ini memang kamu sudah mapan dan matang. Untukmu juga aku
mendoakan agar mendapatkan jodoh terbaik. Saat ini mari kita saling intropeksi
diri dan saling memaafkan. Jalan kita masih panjang fokus terus berjalan ke
depan. Semoga mendapat jawaban terbaik bagi kita semua Amin.
Jika tadi ceritaku dibuka oleh Kapten Yoo, maka kali ini ijinkanlah Dokter Kang yang menutupnya dengan kalimat, "I'll live well"