Single and Happy

Senin, 21 September 2020

Kira-kira bulan Juli kemarin aku dan teman-temanku berlibur ke Malang, kami menyebutnya Camp Healing. Peserta yang ikut kebanyakan single and happy (huwooww vaseline). hahaha 
(yaeyalah kalo punya pacar ngapain juga repot-repot ikutan trip ini.) wkwkwk

Ada satu sesi, para peserta trip saling deep talk menceritakan tentang asam manis kehidupan hingga pahit getirnya menjadi jomblo idaman. (yaelah sa ae lu maemunah)

Tibalah giliranku untuk bertanya, (satu orang dibatasi 1 pertanyaan aja gess, gantian eims soalnya ada 13 peserta lain yang juga pengen curcol). hhhh
Akhirnya aku menanyakan pada temanku (sebut saja Mak Ari) yang dianggap bisa menerawang hanya dengan dilihat tanpa diraba (dikira validasi duit kali ah), pertanyaan yang selalu membuatku penasaran tapi tidak pernah ku tanyakan pada dia dia dia~ (lah ojo diterusno dadi nyanyi mbiaakk)

"Sebenarnya hal apasih yang membuat lelaki mundur/menyerah saat masa pdkt atau saat sudah menjalin hubungan denganku?"
Aku menanyakan ini karena penasaran juga kenapa tidak pernah bisa berhasil bertahan lama jika menjalin hubungan.hhh 
(nah aneh kan gw, yang ninggalin pas sayang-sayangnya sapa yang ditanyai alesannya sapa, ahh biarin aja namanya juga lagi pada moment truth or truth).

"Kamu itu orangnya terlalu cepat menyimpulkan dan menilai."
Begitu jawaban hasil penerawangan Mak Ari, sungguh aku baru mendengar jawaban macam ini yang akhirnya berhasil membuatku intropeksi diri.

Nyatanya aku memang selalu begitu, terlalu cepat menyimpulkan sesuatu dalam suatu kejadian. Ahh kini ku mengerti dan tidak ada penyangkalan pada diriku untuk jawaban ini karena terlalu akurat. (Sakti tenan koncoku sitok iki, kok eroh ae pikirku)

"Tapi tidak apa-apa yang sudah berlalu yasudah biarkan, kalau memang yang dulu-dulu niat serius pasti juga nggak akan mudah meninggalkan. Dari situ kan kamu bisa menilai dan bisa dijadikan untuk yang akan datang dan aku percaya nanti saatnya kamu bahagia juga akan datang." Begitu penutup curhat session bagianku. Entah mengapa, rasanya seperti mendapat jawaban yang tepat atas pertanyaan selama ini. Katanya sih emang gitu, kalo pas frekuensinya sama omongan bisa masuk dan diterima. (Lah dipikir gelombang radio).hahaha

Adakalanya aku berpikir, terlalu nyaman hidup single membuatku happy dengan diri sendiri sehingga tak jarang jadi malas berurusan dengan hal-hal yang bikin ribet jika menjalin hubungan.
Ya emang belum ketemu jodohnya kali, kelak pasti akan datang dia yang mampu mencairkan kerasnya hatimu dan yang sudah di setting mampu bertahan menghadapi rumitnya dirimu yaitu dia yang akan menjadi takdirmu.
Untuk itu saat ini nikmati saja dulu masa-masa single and happy nya karena jika sudah menikah nanti masalah dia juga akan menjadi masalahmu. Untuk itu sekali lagi, mungkin saat ini cara ALLAH menyuruh untuk menyenangkan diri sendiri dulu hingga nanti kan datang saat bertemu seseorang yang bisa mengubah pandanganku bahwa "two is better than one".

Day 6 of 30 Day Writing Challenge | single and happy |

#Day6
#30DaysWritingChallenge




your parents

Sabtu, 19 September 2020

 



Tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang kedua orang tuaku. Semakin dewasa semakin jarang aku dan adik-adikku berkomunikasi dengan mereka jadi kalau ngobrol gitu seperlunya.
Aku masih mendingan karena paling cerewet terutama jika ibu sudah beli barang yang kurang berfaedah gitu aku yang paling cerewet ngomeli(kini ku mengerti belanja barang nirfaedah nurun siapa).hahaha
Ibuku ini nggak bisa marah lama sama aku, beda kalo sama adikku (anak yang nomor dua) kalo ibu marah bisa lama nggak ngajak ngomongnya. Entah kenapa bisa gitu padahal adik keduaku ini yang paling berbakti. muehehe

 Entah kapan tepatnya aku mulai jarang menceritakan kisahku pada orang tuaku terutama ibuku. Tapi kadang kalau ada kabar tentang teman-temanku ibuku masih sering aku update beritanya, cuma ya nggak sesering dulu ya bisa jadi efek ibuku yang juga sibuk dengan kegiatannya sendiri.
 Kalau dengan ayahku memang aku tidak dekat, karena sejak kecil memang lebih banyak bercerita ke ibu. Jadi kadang aku penasaran, bagaimana rasanya bisa dekat dan bercerita dengan seorang ayah tanpa awkward gitu (so sad bukaaann)??
Orang tuaku menikah pada usia muda, saat itu ibuku berusia 23 tahun dan ayahku 24 tahun. Setahun kemudian mereka dikaruniai aku sebagai anak pertama. Tidak mudah menjalani hidup berumah tangga dalam keadaan ekonomi yang terbatas dan memiliki anak.

Merelakan masa muda dan fokus menafkahi keluarga menjadi prioritas mereka, mungkin karena tau betapa susahnya masa-masa itu sehingga kedua orang tuaku belum begitu memaksaku menikah meskipun usiaku sudah menuju kepala 3.

Mereka mendidikku sedari kecil agar terbiasa mandiri sehingga membuatku tumbuh menjadi anak yang tidak terlalu banyak menuntut perhatian karena di usia 5 tahun aku sudah menjadi seorang kakak dan di usia 8 tahun sudah memiliki 2 adik.

Terkadang ada perasaan iri karena perlakuan mereka pada anak kedua dan ketiga semakin lama semakin mengendor, bahkan sampai umur seginipun kadang kalau ijin main/pergi masih saja ketat.hhhh

Berkat didikan orang tua aku mulai memahami bahwa anak pertama terutama wanita memang tidak boleh manja, harus kuat dan mandiri. Prosesnya memang tidak instant karena harus ditempa sejak dini.
Terima kasih ku ucapkan atas kasih sayang yang telah diberikan hingga sampai saat ini, akupun tau terkadang susah menunjukkan rasa sayang orang tua yang kadang salah ditafsirkan anak.
Karena bisa jadi orang tua kita juga sebenarnya memiliki jiwa anak yang belum bertumbuh dengan sempurna namun sudah harus menjadi dewasa. Dengan pemikiran itu kini aku tidak terlalu marah pada mereka jika kadang berselisih pendapat.
 Mohon maaf belum bisa berbakti dan membalas semua kebaikan ayah ibu.

Day 5 of 30 Day Writing Challenge | your parents |

#Day5
#30DaysWritingChallenge

Places you want to visit

Jumat, 18 September 2020

Sebenarnya on my last 20's aku ingin melakukan perjalanan sebagai bentuk self reward dan ingin melakukan challenge "how far you can go".   Namun melihat kondisi negeri saat ini yang tak kunjung membaik, maka perjalanan ini akan aku masukkan ke wishlist dulu, semoga masih diberikan umur, kesehatan dan rejeki sehingga kelak bisa beneran kesana. Amin
Tempat yang ingin sekali aku kunjungi adalah hidden gem Flores yaitu "Wae Rebo". Berada di ketinggian 1500mdpl sehingga mendapatkan julukan negeri di atas awan. Wae Rebo merupakan salah satu situs warisan dunia yang telah dinobatkan UNESCO pada tahun 2012 silam, hal ini layak didapatkan mengingat keunikan alam dan budaya yang dimilikinya.

    Nantinya perjalanan menuju Wae Rebo tidak hanya aku anggap sebagai perjalanan biasa, lebih dari itu lewat perjalanan ini aku ingin megetahui the best version of me (cieeeee).

Entah perasaan apa ini namun aku merasakan ada kesamaan antara aku dan Wae Rebo sehingga aku perlu datang untuk memastikannya secara langsung. Berasa touch and feel gitu kali yak.

Aku melihat ada kehangatan namun tidak menghilangkan sisi misteriusnya, cantik namun tidak semua orang berniat menghampirinya. 

Karena butuh perjuangan dan usaha untuk sekadar singgah. Tentu hanya yang serius dan mau berjuang yang bisa menjumpainya. (Ngggg, wait ini masih bahas Wae Rebo kan??)hhh

Kelak kisah perjalanan panjang ini akan aku ceritakan kepada suami, anak dan cucuku. Betapa serunya berpetualang, mengenal adat istiadat, budaya serta keindahan alam hingga ke Indonesia Timur.
Saat ini hanya bisa bersabar, berdoa dan berikhtiar hingga hari itu tiba. Ku harap segera. Amin

Day 4 of 30 Day Writing Challenge | places you want to visit |
#Day4
#30DaysWritingChallenge